HORMATI GURU, RAIH SUKSESMU

HORMATI GURU, RAIH SUKSESMU

Penulis : Yudi Abu Nabhan

Kalimat “guru tewas dianiaya siswa” sontak menjadi Viral di Dunia maya, bahkan masuk ke dalam daftar trending di mesin pencarian google dengan penelusuran lebih dari 100.000 kali dengan kalimat tersebut. Hal ini dikarenakan ada sebuah kasus tragis yang dialami seorang guru seni rupa bernama Ahmad Budi Cahyono (26) yang tewas dianiaya muridnya sendiri berinisial MH (17) di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Torjun, Sampang, Madura.

Kejadian tersebut haruslah menjadi pelajaran dan perhatian bagi kita semua, khususnya di dalam pendidikan akhlak terhadap anak-anak kita yang sejatinya menjadi tanggung jawab kita selaku orang tuanya, agar menanamkan rasa hormat kepada para gurunya.

Belajarlah kepada salah seorang ulama besar, Imam Qadhi Fahruddin Al-Arsabandi, seorang ulama besar Marwa yang amat disegani dan dihormati oleh semua orang, bahkan oleh penguasa pada waktu itu.

Mengenai hal tersebut, Beliau menuturkan rahasia atas rahmat Allah Swt sebagai berikut : “Sesungguhnya aku memperoleh posisi demikian disebabkan aku melayani guruku. Sebelumnya aku melayani guruku Qadhi Imam Abu Zaid Ad Dabusi. Aku menyiapkan makanan beliau sedangkan aku tidak makan sedikitpun darinya”. (Ta’lim Al Muta’allim, 49-49)

Beliau menuturkan, khidmat yang diberikan kepada gurunya sungguh luar biasa. Gurunya, Imam Abu Zaid ad-Dabbusi benar-benar dilayaninya bak seorang budak kepada majikan. Ia pernah memasakkan makanan untuk gurunya selama 30 tahun tanpa sedikit pun mencicipi makanan yang disajikannya.
Begitulah cara orang-orang terdahulu mendapatkan keberkahan ilmu dari memuliakan gurunya. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid.

Dalam literatur Pendidikan Islam, akan kita temukan pelajaran pertama dari seorang murid adalah bab ‘Adabu Mu’allim wa Muta’allim (Adab antara guru dan murid). Dari kitab manapun, mestilah pembelajaran dimulai dari bab ini. Si murid perlu dipahamkan, dari siapa ia menerima ilmu karena dalam pembelajaran ilmu-ilmu Islam sangatlah memperhatikan sanad (validitas).

Berbeda dengan sesuatu yang bersifat nasihat. Nasihat tak perlu memandang dari mulut siapa keluarnya nasihat itu. Berlakulah di sebuah pepatah Arab, undzur ma qala wala tandzur man qala (lihatlah kepada apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya). Namun, bagi ilmu-ilmu Islam sejenis tafsir, hadits, akidah, dan cabang ilmu sejenisnya, maka kita perlu memperhatikan dari siapa si murid menerimanya. Inilah yang dipesankan Muhammad bin Sirin, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu.”

Akhlak Fakhruddin Al-Arsabandi kepada gurunya sebagai tempat ia mengambil itu benar-benar luar biasa, bahkan beliau berada di hadapan gurunya tak ubahnya seperti budak dihadapan majikannya. Hal yang sama juga pernah ditunjukkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A., beliau pernah mengatakan “Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya.”, karena sekecil apa pun ilmu yang didapat dari seorang guru tak boleh diremehkan. Imam Syafi’i pernah membuat rekannya terkagum-kagum karena tiba-tiba saja ia mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Kemudian Para sahabatnya bertanya, “Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seorang laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada dia?”

Imam Syafi’i menjawab, “Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab, “Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh.”

Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi’i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya, orang tua itu adalah guru yang patut dihormati. Sikap sedemikian pulalah yang menjadi salah satu faktor yang menghantarkan seorang Syafi’i menjadi imam besar sepanjang abad ini.

Lalu bagaimana dengan anak-anak zaman sekarang ? pertanyaan tersebut tentulah bisa kita jawab dengan memperhatikan bagaimana akhlak mereka kepada guru-gurunya saat ini. Hal ini sekaligus menjadi jawaban mengapa banyak murid belajar berbagai bidang ilmu pengetahuan, namun hanya sedikit yang mereka dapatkan ? barangkali sedikit dari mereka yang menaruh hormat kepada guru yang telah mengajarinya.

Lantas bagaimana agar kita “Sukses” mendapatkan ilmu dari guru-guru kita ? berikut saya paparkan salah satu kunci rahasia yang wajib melekat pada seorang murid, yakni “Ta’dzim” kepada gurunya.

Ta’dzim dalam Bahasa Inggris adalah “respect” yang mempunyai makna sopan-santun, menghormati dan mengagungkan orang yang lebih tua atau yang dituakan. [1]

W.J.S. Poerwadarminta mengatakan bahwa sikap ta’dzim adalah perbuatan atau perilaku yang mencerminkan kesopanan dan menghormati kepada orang lain terlebih kepada orang yang lebih tua darinya atau pada seorang Kyai, Guru dan orang yang dianggap dimuliakan. [2]

Menurut A. Ma’ruf Asrori sikap ta’dzim diartikan lebih luas lagi yaitu bukan hanya bersikap sopan dan menghormati saja akan tetapi lebih dari itu, yaitu :

  1. Konsentrasi dan memperhatikan.
  2. Mendengarkan nasehat-nasehatnya.
  3. Meyakini dan merendahkan diri kepadanya.[3]

Lebih lanjut oleh ma’ruf dijelaskan bahwa sikap-sikap tersebut di atas merupakan wujud dari sikap mengagungkan seorang guru.

Dari beberapa pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa sikap ta’dzim adalah suatu totalitas dari kegiatan ruhani (jiwa) yang direalisasikan dengan prilaku dalam wujud sopan-santun, menghormati orang lain dan mengagungkan guru.

Sikap ta’dzim ini wajib dilakukan oleh murid kepada gurunya, sebagaimana syairan Syekh Salamah Abi Abdul Hamid yang diterjemahkan oleh Mas’ud bin Abdur Rohman sebagai berikut  :

ذاان تكن متعلما فا متثلن  #   متعلما فيما يحل وعظم

Artinya : “Siswa itu wajib taat kepada gurunya, menurut apa yang diperintahkan guru di dalam perkara yang halal, dan wajib ta’dzim (mengagungkan) kepada gurunya”.[4]    

Adapun ciri-ciri sikap ta’dzim menurut A. Ma’ruf ada 5 (lima) hal yaitu :

  1. Apabila duduk di depan guru selalu sopan.
  2. Selalu mendengarkan perkataan guru.
  3. Selalu melaksanakan perintah guru.
  4. Berfikir sebelum berbicara dengan guru.
  5. Selalu merendahkan diri kepadanya. [5]

Sedangkan menurut Sidik Tono, et.al., ciri-ciri sikap ta’dzim adalah sebagai berikut :

  1. Selalu bersikap hormat kepada guru.
  2. Selalu datang tepat waktu.
  3. Senantiasa berpakaian rapi.
  4. Mendengarkan saat guru menerangkan.
  5. Menjawab saat guru bertanya.
  6. Berbicara ketika sudah diberi izin.
  7. Selalu melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru.[6]

Menurut Syeikh Salamah dalam Kitab Jauharul ‘Adab ciri-ciri sikap ta’dzim adalah sebagai berikut;

  1. Selalu mengucapkan salam ketika bertemu dengan guru.
  2. Mengerjakan pekerjaan yang membuatnya senang.
  3. Senantiasa menundukkan kepala ketika duduk didekat guru.
  4. Ketika bertemu guru di jalan senantiasa berhenti di pinggir jalan seraya menaruh hormat kepadanya.
  5. Selalu mendengarkan ketika guru menerangkan seraya mencatat.
  6. Selalu menaruh hormat kepada siapapun.
  7. Menjaga nama baik guru dimanapun berada.[7]

Jadi secara umum ciri-ciri dari sikap ta’dzim  adalah : bila di hadapan guru selalu menundukkan kepala dengan niat hormat, selalu mendengarkan perkataan-perkataan guru, selalu menjalankan perintahnya, menjawab ketika ditanya, selalu merendahkan diri kepadanya, menjaga nama baik guru dan lain-lain.

Dari paparan di atas, kita berdoa kepada Allah Swt semoga diberikan keberkahan di dalam menggali ilmu, mengampuni segala dosa-dosa kita, dan memberikan hidayah serta taufikNya, Aamiin.

Footnote

[1]Rinold A. Nicholson, The Idea Of Respect, Insafism, Idaroh I, Adawiyah I, Delli t,th. Hal. 1-2.

[2]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1976, hal. 995.

[3]A. Ma’ruf Asrori, Etika Bermasyarakat, Al- Miftah, Surabaya, 1996, hal. 11-12 

[4]Syeikh Salamah Abi Abdul hamid, Jauharul Adab, Toha Putra, Semarang, 1967, hal. 3-4.

[5]A. Ma’ruf, Etika Bermasyarakat, Al-Miftah, Surabaya, 1996, hal. 11.

[6]Sidik Tono, et.al., Ibadah dan Akhlak dalam Islam, Yogyakarta, 2002, hal. 107

[7]Syeikh Salamah Abi Abdul Hamid, Op. Cit., hal. 5-7.

 

Be Sociable, Share!

MediaAM

Ponpes Terpadu Al-Multazam merupakan Pondok Pesantren yang berada di bawah kaki Gunung Ciremai, Gunung terbesar di Jawa Barat dengan Cuaca yang sejuk, rindang, hijau, air bersih dan nyaman untuk pembelajaran. Adapun alamat Ponpes Terpadu Al-Multazam ada di dua tempat, yakni 1. Desa Maniskidul Kec. Jalaksana, Kab. Kuningan 2. Desa Linggajati Kec. Cilimus, Kab. Kuningan Info Pendaftaran di www.prs.almultazam.sch.id